Jumat, 11 September 2009
Tanda-Tanda Malam Lailatul Qadar dan Koreksi Terhadapnya
Diantara kita mungkin pernah mendengar tanda-tanda malam lailatul qadar yang telah tersebar di masyarakat luas. Sebagian kaum muslimin awam memiliki beragam khurofat dan keyakinan bathil seputar tanda-tanda lailatul qadar, diantaranya: pohon sujud, bangunan-bangunan tidur, air tawar berubah asin, anjing-anjing tidak menggonggong, dan beberapa tanda yang jelas bathil dan rusak. Maka dalam masalah ini keyakinan tersebut tidak boleh diyakini kecuali berdasarkan atas dalil, sedangkan tanda-tanda di atas sudah jelas kebathilannya karena tidak adanya dalil baik dari al-Quran ataupun hadist yang mendukungnya. Lalu bagaimanakah tanda-tanda yang benar berkenaan dengan malam yang mulia ini ?Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pernah mengabarkan kita di beberapa sabda beliau tentang tanda-tandanya, yaitu:1. Udara dan suasana pagi yang tenangIbnu Abbas radliyallahu’anhu berkata: Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda:“Lailatul qadar adalah malam tentram dan tenang, tidak terlalu panas dan tidak pula terlalu dingin, esok paginya sang surya terbit dengan sinar lemah berwarna merah” (Hadist hasan)2. Cahaya mentari lemah, cerah tak bersinar kuat keesokannyaDari Ubay bin Ka’ab radliyallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda:“Keesokan hari malam lailatul qadar matahari terbit hingga tinggi tanpa sinar bak nampan” (HR Muslim)3. Terkadang terbawa dalam mimpiSeperti yang terkadang dialami oleh sebagian sahabat Nabi radliyallahu’anhum4. Bulan nampak separuh bulatanAbu Hurairoh radliyallahu’anhu pernah bertutur: Kami pernah berdiskusi tentang lailatul qadar di sisi Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam, beliau berkata,“Siapakah dari kalian yang masih ingat tatkala bulan muncul, yang berukuran separuh nampan.” (HR. Muslim)5. Malam yang terang, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang dan tidak ada yang dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi setan)Sebagaimana sebuah hadits, dari Watsilah bin al-Asqo’ dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam:“Lailatul qadar adalah malam yang terang, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang dan tidak ada yang dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi setan)” (HR. at-Thobroni dalam al-Mu’jam al-Kabir 22/59 dengan sanad hasan)6. Orang yang beribadah pada malam tersebut merasakan lezatnya ibadah, ketenangan hati dan kenikmatan bermunajat kepada Rabb-nya tidak seperti malam-malam lainnya.Wallahua’lam
Renungkanlah cerita ini...
Syaikh Ali ath-Thanthawi dalam sebuah siaran radio dan televisinyamengabarkan bahwa di negeri Syam ada seorang laki-laki yang memilikisebuah mobil truk Lorie. Ketika mobil itu dijalankan, tanpadiketahuinya di atas badan mobil itu ada orang. Mobil itu mengangkutpeti yang sudah siap untuk menguburkan mayat. Sedangkan di dalampeti itu terdapat kain yang bisa digunakan sewaktu-waktu dibutuhkan.Tiba-tiba hujan turun dan mengalir deras. Orang itu pun bangun danmasuk ke dalam peti, dan membungkus dirinya dengan kain yang ada didalam peti.Kemudian di tengah jalan ada seorang yang lain naik menumpang ke bakmobil itu di samping keranda. Dia tidak tahu bahwa di dalam peti ituada orang. Hujan belum berhenti. Orang yang kedua ini mengira bahwadirinya hanya sendirian di dalam bak mobil itu. Tiba-tiba dari dalampeti ada tangan terjulur (untuk memastikan apakah hujan sudahberhenti atau belum). Ketika tangan itu terjulur, kain yangmembungkusnya juga ikut terjulur keluar. Si penumpang itu kaget dantakut bukan kepalang. Dia mengira bahwa mayat yang ada di dalam petiitu hidup kembali. Karena takutnya, dia terjungkal dari mobil denganposisi kepala di bawah. Dan, mati.Demikian Allah menentukan kematian orang itu dengan cara seperti ini.Segala sesuatu sesuai dengan qadha' dan qadar,dan kematian adalahsebaik-baik pelajaran.Yang selalu harus diingat oleh seorang hamba adalah bahwa dia sedangmembawa kematian, bahwa dia sedang berjalan menuju kematian, danbahwa dia sedang menunggu kematian itu entah akan datang pagi atausore. Sungguh indah ungkapan Ali bin Abi Thalib, "Sesungguhnyakematian terus mendekati kita, dan dunia terus meninggalkan kita.Maka, jadilah kalian anak-anak akhirat dan janganlah kalian menjadianak-anak dunia.Sesungguhnya, hari ini adalah beramal dan tidak ada hisab, dan esokadalah hisab dan tidak ada lagi beramal.Ungkapan Ali ini mengingatkan kita, bahwa manusia harus selalu siapsiaga,memperbaiki keadaannya, memperbaharui taubatnya, danmengetahui bahwa dia sedang berhubungan dengan Rabb Yang Maha Mulia,Kuat, Agung, dan Baik.Kematian itu tidak pernah meminta izin kepada siapa saja, tidakpernah pilih kasih kepada siapa saja, dan tidak pernah merajuk.Kematian itu tidak pernah memberikan aba-aba terlebih dahulu.{Dan, tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apayang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapatmengetahui di bumi mana dia akan mati} (QS. Luqman: 34)Diketik ulang dari :Buku La Tahzan,
Kamis, 10 September 2009
Makna Musibah
Musibah berasal dari kata ashaaba, yushiibu, mushiibatan yang berartisegala yang menimpa pada sesuatu baik berupa kesenangan maupunkesusahan. Namun, umumnya dipahami musibah selalu identik dengankesusahan. Padahal, kesenangan yang dirasakan pada hakikatnya musibah juga. Dengan musibah, Allah SWT hendak menguji siapa yang paling baik amalnya.''Sesungguhnya kami telah jadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, karena Kami hendak memberi cobaan kepada mereka, siapakah di antara mereka yang paling baik amalnya.'' (QS Al-Kahfi (18): 7) Ada tiga golongan manusia dalam menghadapi musibah. Pertama, orang yang menganggap bahwa musibah adalah sebagai hukuman dan azab kepadanya. Sehingga, dia selalu merasa sempit dada dan selalu mengeluh.Kedua, orang yang menilai bahwa musibah adalah sebagai penghapus dosa.Ia tidak pernah menyerahkan apa-apa yang menimpanya kecuali kepada AllahSWT. Ketiga, orang yang meyakini bahwa musibah adalah ladang peningkataniman dan takwanya. Orang yang seperti ini selalu tenang serta percaya bahwa dengan musibah itu Allah SWT menghendaki kebaikan bagi dirinya.Musibah yang ditimpakan kepada manusia ada dua macam. Pertama, musibah dunia; dan kedua, musibah akhirat. Musibah dunia salah satunya ialah ketakutan, kelaparan, kematian, dan sebagainya sebagaimana Allah SWT jelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 155. ''Dan pasti akan kami ujikalian dengan sesuatu dari ketakutan, dan kelaparan, dan kekuranganharta dan jiwa dan buah-buahan, dan berilah kabar gembira bagiorang-orang yang sabar.'' Adapun musibah akhirat adalah orang yang tidak punya amal saleh dalam hidupnya, sehingga jauh dari pahala. Rasulullah SAW pernah bersabda, ''Orang yang terkena musibah, bukanlah seperti yang kalian ketahui, tetapi orang yang terkena musibah yaitu yang tidak memperoleh kebajikan (pahala) dalam hidupnya.''Orang yang terkena musibah berupa kesusahan di dunia, jika ia hadapidengan kesabaran, ikhtiar, dan tawakal kepada Allah SWT, hakikatnya iatidak terkena musibah. Justru yang ia dapatkan adalah pahala.Sebaliknya, musibah kesenangan selama hidupnya, jika ia tidak pandaimensyukurinya, maka itulah musibah yang sesungguhnya. Karena, bukanpahala yang ia peroleh, melainkan dosa.Berkenaan dengan hal tersebut, dalam hadis Qudsi Allah SWT berfirman,''Demi keagungan dan kemuliaan-Ku, Aku tiada mengeluarkan hamba-Ku yang Aku inginkan kebaikan baginya dari kehidupan dunia, sehingga Aku tebus perbuatan-perbuatan dosanya dengan penyakit pada tubuhnya, kerugian pada hartanya, kehilangan anaknya. Apabila masih ada dosa yang tersisa dijadikan ia merasa berat di saat sakaratul maut, sehingga ia menjumpai Aku seperti bayi yang baru dilahirkan.''
Langganan:
Komentar (Atom)